Sabtu, 17 April 2010

DOA HARI AHAD


Dengan menyebut nama “Allah…”
Yang Maha Pengasih
Lagi Maha Penyayang

Tak ada lagi yang kuharapkan kecuali anugerah-Mu
Tak ada lagi yang kutakuti kecuali keadilan-Mu
Tak ada lagi yang kupercaya kecuali firman-Mu
Dan aku sama sekali tidak berpegang teguh kecuali pada tali cinta-Mu.


Aku berlindung kepada-Mu duhai Zat yang Maha Melindungi
Dari kedzaliman dan permusuhan
Dari silih bergantinya masa dan kesusahan
Dari peristiwa-peristiwa yang menyesakkan
Dan dari tibanya akhir nafasku sebelum luntur dosa-dosaku.

Hanya kepada-Mu aku memohon petunjuk
Demi membenahi keadaanku

Hanya kepada-Mu aku memohon pertolongan
Demi menempuh apa yang aku citakan

Hanya kepada-Mu aku memohon limpahan ‘afit
dan keselamatan untuk selamanya

Terimalah shalat dan puasaku
Jadikanlah hari esokku lebih baik dari hari ini

Muliakanlah aku di kalangan keluarga dan kaumku
Jagalah aku kala terjaga dan tidur
Karena Engkau adalah Allah sebaik-baik penjaga
Dan Engkau Pengasih diatas semua pengasih.

Ya Allah, di hari ini ini aku bersimpuh di haribaan-Mu
Demi membebaskan diri dari cengkeraman syirik dan kufur

Aku menyeru-Mu dengan tulus hati
Demi mengharap pengabulan-Mu
Dan senantiasa menaati-Mu
Demi mengharap pahala-Mu.

Limpahkanlah shalawat atas Muhammad
Makhluk termulia-Mu yang mengajak manusia mengenal hak-Mu.
Maka muliakanlah aku dengan kemuliaan-Mu
Yang tidak pernah ternodai oleh kehinaan

Jagalah aku dengan pengawasan mata-Mu
Yang tidak pernah pejam


Akhirilah segala urusanku dengan penyerahan penuh kepada-Mu
Serta tutuplah umurku dengan pengampunan-Mu
karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



(Insan Sains)
*disarikan dari kitab Mulhaqat ash-Shahifah as-Sajjadiyah



Read More......

KISAH NYATA (just sharing guys..) semoga bermanfaat

Kesaksian Warga Bengkalis yang Mati Suri dalam Temu Alumni ESQ

''Menyaksikan Orang Disiksa dan Ingin Kembali ke Dunia''


Pengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina, telah pula dirasakan
banyak orang. Seorang peneliti dan meraih gelar doktor filsafat dari
Universitas Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini.
Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama.
Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia.

Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agus tus 2006 lalu.
Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya
dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri.

Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan
penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah
yatim. Sejak kecil cobaan telah datang kepada dirinya.

Pada umur tujuh tahun tubuhnya terbakar api sehingga harus menjalani dua kali operasi. Menjelang usia SMA ia termakan racun. Oleh sebab itu ia menderita selama tiga tahun. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid).
Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya.
Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agus tus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC)Melaka Malaysia . Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi.

''Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,' ' jelas Rustam. Oleh
karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah.
Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa
Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke
unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya
sesak. Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ''Aslina
seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya ajarkan
kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina
menghembuskan nafas terakhir,'' ungkapnya. Usai Rustam memberi
pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya.

''Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,'' begitu ia mengawali kesaksiaanya setelah meminta seluruh hadirin yang memenuhi Grand Ball Room Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru tersebut membacakan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Tak lupa ia juga menasehati jamaah untuk memantapkan iman, amal dan ketakwaan sebelum mati datang.

''Saya telah merasakan mati,'' ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku
mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutya, terlalu sakit mati itu.

Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit
hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi.

''Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki kanan saya,''
tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat
thoyibah.

''Saat di ujung napas, saya berzikir,'' ujarnya. ''Sungguh sakitnya,
Pak, Bu,'' ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru.

Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di
sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang
terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan
Assalaimualaikum kepada ruh Aslina.

'' Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot,
gemetar,'' ujar Aslina menceritakan pengalaman matinya. Lalu malaikat
itu bertanya: ''siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa
nama orang tuamu. " Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan
lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ''Tak ada teman kecuali amal,''
tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau.

Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam
itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis, badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut.

Aslina melanjutkan. ''Bapak, Ibu, ingatlah mati,'' sekali lagi ia
mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput.

Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh
dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya.
Lalu ia memanggil malaikat itu dengan ''Ayah''. ''Wahai ayah bisakah
saya bertemu dengan ayah saya,'' tanyanya.

Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia
antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun.
Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina
mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ''Wahai ayah, janji saya telah sampai.'' Mendengar itu ayah saya saya menangis.

Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ''Pulanglah ke rumah, kasihan
adik-adikmu. '' ruh Aslina pun menjawab. ''Saya tak bisa pulang, karena
janji telah sampai''.

Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada.

''Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah
kekal,'' ujarnya bak seorang pendakwah.

Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk.
Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang
beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa
ke kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, disebelahnya
terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh
Aslina bertanya kepada perempuan itu. ''Siapa kamu?'' lalu perempuan itu menjawab.''Akulah (amal) kamu.''

Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan
menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa.
Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton,
tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya
menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya.
''Siapa manusia ini?'' Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika
hidupnya suka membunuh orang.

Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina
bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan
bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat bahkan tak bisa mengucapkan
dua kalimat syahadat ketika di dunia.

Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke
tubuhnya.
Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang
saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam
orang lain.

Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan,
setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu
berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang
menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya.
Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh.

Tampak pula orang berkepala babi dan berbadan babi. Orang tersebut
adalah orang yang suka berguru pada babi. Ada pula orang yang
dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang
durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia.

Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak.

Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subhanallah, Alhamdulillah dan
Allahu Akbar.Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya.
Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir.

Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya
mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar ka’bah. Di
dalam tepak terdapat batangan emas.

Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab
tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara leiterlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat) baik,red).

Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan di Mekkah. Ia pun
mengatakan kepada amalnya.
''Saya mau shalat.'' Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan
tangan ruh Aslina.

''Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia
shalat,'' ungkap Aslina.

Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu
diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Di makam
tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ''husnul khatimah'' itu
mengeluarkan cahaya terang.
Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya
itu pun bicara kepada ruh Aslina.
''Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.''

Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad
berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak
sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu
berkata. ''Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.''
Manusia-manusia itu juga memohon. ''Tolong kembalikan aku ke dunia, aku
mau beramal.''


Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat
ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang
datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh
serta tidak melanggar aturan Allah.

Setelah kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin yang
telah mendapat lisensi dari Ary Ginanjar (pengarang buku sekaligus
penemu metode Pelatihan ESQ) menjelaskan bahwa fenomena mati suri dan
apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri pernah diteliti ilmuan
Barat.

Legisan mengemukakan pula, mungkin di antara alumni ESQ yang hadir pada
Ahad (24/9) malam itu ada yang tidak percaya atau ragu terhadap
kesaksian Aslina. Tapi yang jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati
suri merasakan dan melihat hal yang hampir sama.

''Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah
kepada kita semua'' ujarnya. Legisan menjelaskan penelitian oleh Dr
Raymond A Moody Jr tentang mati suri.
Raymond mengemukakan orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong waktu,
di sana ia melihat rekaman seluruh apa yang telah ia lakukan selama
hidupnya. Dan diakhir pengakuan orang mati suri itu berkata: ''Dan aku
ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya.''

Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin
dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang
menyebutkan ''aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan
semuanya,'' Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu'muninun (23) ayat 99-100:

Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), Hingga apabila datang
kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:''Ya, Tuhanku
kembalikanlah aku (ke dunia).''(99) . Agar aku berbuat amal yang saleh
terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu
adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada
dinding sampai hari mereka dibangkitkan. (100).

Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran
Surat Az-Zumar ayat 39: ''Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan
berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu
tidak dapat ditolong (lagi).''
Usai pertemuan alumni itu, Aslina meminta nasehat dari Legisan.
Intruktur ESQ itu menyarankan agar Aslina senatiasa berdakwah dan
menyampaikan kesaksiaannya saat mati suri kepada masyarakat agar mereka
bertaubat dan senantiasa mentaati perintah Allah dan menjauhi
larangan-Nya. Setelah acara, banyak di antara alumni yang bersimpati dan ingin membantu pengobatan sakit gondoknya. Para hadirinpun menyempatkan diri untuk berfoto bersama Aslina.

Semoga pembaca dapat mengambil pelajaran dari kesaksiaan.


www.mail-archive.com


Read More......

Jangan Biarkan Dirinya Menangis……!!


Seperti biasa, setiap hari saya selalu menyempatkan diri untuk membuka beberapa web, twitter, dan facebook yang saya kelola, sekedar untuk memeriksa komentar-komentar yang masuk, mengupdate berita di web dan memperbaharui status di facebook.

Hari ini, beberapa tulisan terkait dengan isu-isu nasional saya posting di web. Setelah selesai saya lanjutkan membuka twitter, memperbaharui twet sebelumnya. Dari keduanya, tidak ada hal yang terlalu menarik bagi saya. Karena baik berita maupun yang lainnya memang sudah saya ketahui sebelumnya.

Tapi, berbeda ketika membuka facebook. Ada pesan masuk yang saya sendiri tidak bisa menjawabnya. Karena merasa tidak mempunyai kapasaitas yang sesuai. Seperti inilah pesan yang masuk itu:

Assalamu’alaikum wrwb
Bismillahirrahmaanirrahiim
Terlebih dahulu sy mh maaf jk prmohonan ini mmberatkan akhi n ukhti semua. sy sbnrnya jg malu tp inilah ikhtiar stlh sekian lama berikhtiar. sy brmksud ikhtiar dg smata2 mgharap prtolongan ALLAH yg Mh Tahu dmn jalan yg akan dbukakan utk sy. sy bmaksud ikhtiar mggenabkan dien demi mjaga diri bs berjihad dlm rumah tangga utm mwujudkan generasi rabbani. sy jg sdh mgajukan proposal ke murabbiyah sy, saudara, sahabat dsb, tp mgkin ALLAH blum mnetapkan kpn saat itu tiba. utk itu,melalui ikatan ukhuwah ini, sy berharap bantuan akhi n ukhti smua. sekedar informsi yg mg bs berguna:

Nama : ***
Usia : ***
Pndkn : ***
Pkrjn : ***
Almt : ***

Mg ALLAH mridhai ikhtiar sy ini n mmbukakan jln utk mggenapkan dienNya, amiin ya Rabbal alamin. Jazakumullah khairul jaza.
Wasslam wr wb
ttd
Uhkti ***


Semoga Allah memberikan kekuatan pada saya untuk segera menyempurnakan agamanya. Anda mungkin sudah tau kenapa saya tidak bisa menjawab pesan itu. Iya…karena saya juga belum menikah. Respon yang ada kala itu malah gemeteran, dada terasa sesak, dan kebingungan. Ah… namanya saja bujangan, wajar. Tapi bukan berarti saya juga tidak bisa menanggapi lho.., walaupun hanya bisa menghasilkan sebuah tulisan yang ada di blog pribadi saya.

Saya ingin berkata seperti ini. Pertama-tama saya menyadari bahwa jama’ah ini memiliki keterbatasan. Sementara para murobbi/murobbiyah harus berpacu dengan waktu, semakin bertambah waktu bertambah pula umur akhwat-akhwat itu.

Meminjam kata-kata ustadz Hamzah Nasution, “Tidak Boleh! Demi Alloh tidak boleh ada yang merasa tersisih dalam gegap gempita jamaah ini. Termasuk keluarga dan pernikahan kader. “Pernikahan sesama kader adalah mutlak, agar dakwah ini tetap terjaga” lanjut beliau. Dan itu butuh pemahaman. Pemahaman saya, pemahaman antum sebagai ikhwan.

Ikhwah Fillah… tuntutan umat semakin bertambah banyak. Beban jamaah ini semakin hari semakin bertambah. Dan taukah engkau jikalau ustadz pernah mengatakan, termasuk juga beban adalah jika kamu menunda-nunda pernikahanmu ya akhi. Karena dari hari-kehari proposal akhwat semakin banyak yang masuk. Sementara engkau, tak berbuat apa-apa. Jamaah tidak mungkin bisa fokus dalam menyelesaikan berbagai permsalahan yang dialami umat ini jika kita masih terus saja disibukkan oleh kewajiban internal kita. Permasalahan para penggerak dakwah ini.

Siapun engkau yang belum menikah… saya dan antum sama-sama mengetahui. Akhwat-akhwat itu tak meminta apa-apa dari kita. Ia hanya menunggu keberanian kita, keberanian untuk mengkhitbahnya. Keberanian dan kesiapan kita dari segala aspeknya. Maka, melalui tulisan singkat ini pula, saya menyerukan pada diri saya dan antum semua untuk segera memenuhi segala aspek kesiapan itu.
Sebagai penutup tulisan ini. Saya ingin menyampaikan kepada ukhti, saudariku di jalan dakwah -yang mengirimkan pesan di atas. Tataplah langit itu seluas pandanganmu. Yakinlah Masih ada ikhwan yang menjaga kesucian dirinya yang berani menyempurnakan agamanya.

Sudah, sudah tinggalkan saja ikhwan-ikhwan pengecut Itu..! Jika ada ikhwan yang baik bagimu, sampaikan pada wali dan murobbiyahmu bahwa engkau ingin beribadah bersamanya. Temuilah ikhwan itu. Sampaikan proposal ini kepadanya. Bukankah bunda Khadijah pun melakukan hal yang sama.
Jika akhirnya ikhwan itu tak bersedia, bukan berarti ia menolakmu. Ia hanya belum siap beribadah bersamamu, belum siap menjadi imam bagimu. Tak perlu malu, bukankah engkau menyerunya untuk beribadah. Menikah itu adalah ibadah. Engkau hanya perlu memaksimalkan ikhtiarmu.


Semoga Allah menurunkan ridho-Nya di hati mereka hingga niat mulia para akhwat ini tak bertepuk sebelah tangan. Agar tak ada lagi bening air mata, agar dakwah ini tetap terjaga.


wahyupermadi.web.id



Read More......

Jumat, 16 April 2010

Wahai Para Pemuda Muslim…


Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu ‘anhu-, “Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”. (HR. At-Tirmizi)
Hadits di atas jelas menunjukkan bahwa masa muda merupakah salah satu nikmat terbesar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Dan itu sekaligus menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan usia muda dan para pemuda.

Peran Pemuda Dalam Islam

Tidak diragukan lagi bahwa para pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan manusia secara umum dan masyarakat kaum muslimin secara khusus, karena jika mereka adalah para pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam maka merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nahkoda ummat ini yang akan mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini dikarenakan Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah memberikan kepada mereka kekuatan badan dan kecemerlangan pemikiran untuk dapat melaksanakan semua hal tersebut. Berbeda halnya dengan orang yang sudah tua umurnya walaupun para orang tua ini melampaui mereka dari sisi kedewasaan dan pengalaman, hanya saja faktor kelemahan jasad -kebanyakannya- membuat mereka tidak mampu untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan oleh para pemuda.

Oleh karena itulah para sahabat yang masih muda -radhiallahu ‘anhum- memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa Ta’ala-. Di antara mereka ada Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr ibnul Ash, Muadz bin Jabal, dan Zaid bin Tsabit yang mereka ini telah mengambil dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- berbagai macam ilmu yang bermanfaat, menghafalkannya, dan menyampaikannya kepada ummat sebagai warisan dari Nabi mereka. Di sisi lain ada Khalid ibnul Walid, Al-Mutsanna bin Haritsah, Asy-Syaibany dan selain mereka yang gigih dalam menyebarkan Islam lewat medan pertempuran jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruhnya mereka adalah satu ummat yang tegak melaksanakan beban kewajiban mereka kepada agama, ummat, dan masyarakat mereka, yang mana pengaruh atau hasil usaha mereka masih kekal sampai hari ini dan akan terus menerus ada -dengan izin Allah- sepanjang Islam ini masih ada.

Para pemuda di zaman ini adalah para pewaris mereka (para pemuda dari kalangan shahabat) jika mereka mampu untuk memperbaiki diri-diri mereka, mengetahui hak dan kewajiban mereka, serta melaksanakan semua amanah yang diberikan kepada mereka yang berkaitan dengan ummat ini. Dan bagi mereka khabar gembira dari Nabi mereka -Shollallahu alaihi wasallam- tatkala beliau bersabda dalam hadits yang shahih,

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.”

Perhatian Islam Kepada Pemuda

Agama kita Islam yang mulia ini mempunyai perhatian yang sangat besar mengenai pertumbuhan dan perkembangan para pemuda, karena merekalah yang akan menjadi tokoh di masa yang akan datang, yang akan menggantikan dan mewarisi tugas-tugas mulia dari ayah-ayah mereka kepada ummat ini.

Berikut beberapa tuntunan Islam yang berkaitan dengan apa yang kita sebutkan:

1. Islam menuntunkan setiap lelaki untuk memilih istri yang sholihah yang akan lahir darinya anak-anak yang sholeh yang selanjutnya tumbuh menjadi para pemuda yang beraqidah dan berakhlak Islamy.

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- bersabda mengingatkan setiap lelaki yang mau mencari istri, “Pilihlah yang baik agamanya, kalau tidak maka celaka kamu.” Hal ini dikarenakan jika Allah -Subhanahu wa Ta’ala- memberikan rezki berupa anak-anak dari istri yang sholihah maka dia -sebagai ibu- akan tegak melaksanakan perannya dalam rumah tangganya dalam hal mendidik dan mengarahkan anak-anaknya kepada tuntunan Islam. Ini adalah tuntunan Islam kepada para pemuda sebelum lahirnya.

2. Memberikan nama yang baik kepada anak, karena nama yang baik itu juga memiliki makna dan pengaruh yang baik pada akhlak sang anak, karena dia merupakan lambang dari doa atau harapan orang tua kepada Allah tentang anaknya.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- memotifasi setiap orang tua untuk memilih nama yang baik buat anak mereka serta menjauhi nama yang jelek atau nama yang menunjukkan atau mengandung makna yang kurang pantas.

.3. Melaksanakan nasikah/aqiqah untuk anak, karena hukumnya adalah sunnah mu`akkadah dan memiliki pengaruh yang baik kepada anak.

Ketiga perkara di atas adalah tuntunan Islam kepada para pemuda di awal pertumbuhannya.

4. Menaruh perhatian yang besar dalam mendidik anak ketika dia sudah memasuki usia mumayyiz dan sudah mempunyai daya tangkap (paham).

Dan telah ada suri tauladan yang baik pada diri Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dalam hal ini, bagaimana beliau mengajarkan kepada anak-anak dan para pemuda dari kalangan sahabat semua perkara keagamaan dari yang palng besar sampai pada perkara yang paling kecil.
Beliau bersabda kepada Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhuma- ketika mengajarkan beberapa perkara aqidah kepadanya, “Hai anak kecil, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkataan: Jagalah Allah niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah niscaya kamu akan mendapati Dia berada di depanmu, jika kamu meminta maka minta hanya kepada Allah dan jika kamu meminta pertolongan maka minta pertolongan hanya kepada Allah”. (HR. At-Tirmizi)

Dan beliau bersabda dalam masalah sholat, “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika mereka berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena (mereka meninggalkan) nya ketika mereka telah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidur”.
Dan beliau juga pernah menegur Umar bin Abi Salamah ketika dia sedang makan, “Hai anak kecil, bacalah bismillah (sebelum makan), makanlah dengan (tangan) kananmu dan (mulailah) makan dari (makanan) yang terdekat denganmu”. (HR. Muslim)

Dan selainnya dari hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Islam menaruh perhatian yang besar terhadap para pemuda, dan Islam mengawasi serta mengarahkan mereka dalam setiap fase umur mereka yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan daya tangkap masing-masing pemuda.
Apalagi Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- telah mengkhabarkan dalam hadits Abu Hurairah, “Setiap (anak) yang dilahirkan (pasti) dilahirkan di atas fitrah, kedua orang tuanyalah yang membuat dia jadi Yahudi atau Nashrani atau Majusi”. Hadits ini menunjukkan bahwa fitrah setiap anak yang dilahirkan adalah kebaikan, kebenaran, dan di atas nilai-nilai Islam, dan fitrah ini jika dijaga oleh kedua orang tuanya dan mereka mengarahkannya kepada kebaikan maka sang anak pasti akan mengarah kepada jalan-jalan kebaikan.

Adapun jika kedua orang tua menyimpang dari nilai-nilai Islam dalam mendidik anak-anak mereka maka fitrah ini akan rusak dan ikut menyimpang dari nilai-nilai Islam sesuai dengan pendidikan orang tuanya. Maka jika orang tua adalah Yahudi atau Nashrani atau Majusi maka sang anak akan tumbuh di atas agama yang buruk ini yang secara otomatis telah merusak fitrahnya. Adapun jika orang tuanya adalah muslim yang sholeh, pasti dia akan menjaga fitrah yang mulia ini, yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- telah tempatkan ke dalam hati setiap anak, lalu menumbuhkannya, mensucikannya, dan menjaganya.

5. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan setiap anak ketika kedua orang tuanya atau salah satunya sudah berusia lanjut agar dia berbuat baik kepada keduanya atau kepada yang masih hidup di antara keduanya, dan agar sang anak mengingat pendidikan kedua orang tuanya kepadanya ketika dia masih kecil.

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyatakan, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya telah sampai pada usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isra` : 23-24)

Sisi pendalilan dari kedua ayat di atas adalah dalam firmanNya, “Sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. Maka perawatan orang tua kepada anaknya adalah suatu nikmat dan kebaikan untuk sang anak yang wajib dia balas kepada kedua orang tuanya. Bukan yang diinginkan dengan perawatan dalam ayat ini hanya terbatas pada perawatan yang sifatnya jasmaniyah saja, dalam artian mencukupi mereka dalam hal makanan, minuman, tempat tinggal, dan selainnya. Karena jika perawatan sebatas pada perkara-perkara tersebut maka tidak ada bedanya dengan perawatan binatang kepada anaknya.

Akan tetapi yang lebih penting dari hal itu adalah perawatan maknawiyah berupa menjaga fitrah sang anak agar tetap suci, mengarahkannya kepada kebaikan, menanamkan nilai-nilai Islam pada dirinya, serta membiasakan mereka untuk tumbuh dan berkembang dalam aturan-aturan Islam, inilah perawatan yang akan mendatangkan manfaat yang pengaruhnya akan terus bersama sang anak.

Adapun sekedar merawat mereka dengan perawatan jasmaniyah, maka hal ini justru lebih mendekati kepada perbuatan merusak mereka daripada memperbaiki mereka. Karena seorang anak, jika dipenuhi semua kebutuhannya dari sisi makanan, minuman, dan keinginan tetapi tidak diberikan perawatan maknawi berupa pendidikan keagamaan yang benar maka ini adalah sebesar-besar faktor yang menyebabkan mereka tumbuh di atas sifat-sifat kebinatangan.

Maka jika kedua orang tua merawat anak mereka dengan kedua jenis perawatan ini maka inilah yang merupakan kebaikan besar yang akan terus-menerus dikenang oleh sang anak ketika dia merasakan kebaikan dari kedua orang tuanya sehingga dia bisa berkata sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”
Wallahu a’lam bishshawab.



sobatmuslim.wordpress.com



Read More......

Ilmu Dunia tanpa keikhlasan dan pensucian jiwa membawa Anda kepada ‘Kesombongan’

Sumber Kesombongan


Sombong,
sebagaimana didefinisikan Rasulullah SAW adalah "Melecehkan orang lain dan menolak kebenaran" (HR Muslim dan Tirmidzi). Bila penyakit ini telah mewabah dan menjangkit manusia, maka tidak ada lagi penghormatan dan sopan santun, kebenaran menjadi barang mainan. Lebih jauh, penyakit ini akan memunculkan sikap kezaliman, kemarahan, terorisme, permusuhan dan pelanggaran hak.

Ketahuilah bahwa tidak akan bersombong kecuali orang yang menganggap dirinya besar dan tidak akan menganggap dirinya besar kecuali orang yang meyakini memiliki sifat kesempurnaan. Di antara sumber kesombongan adalah sebagai berikut:

Pertama: NASAB KETURUNAN.

Orang yang punya nasab keturunan yang tinggi menganggap hinaorang yang tidak memiliki nasab tersebut, sekalipun ia lebih tinggi ilmu dan amalnya. Kadang sebagian mereka menyombongkan diri lalu menganggap orang lain sebagai pengikut dan budaknya, sehingga ia enggan bergaul dan duduk bersama mereka. Rasulullah bersabda "Hendaklah orang meninggalkan kebanggan terhadap nenek moyang mereka yang telah menjadi batu bara di neraka."(HR. Abu Daud)

Kedua: HARTA KEKAYAAN.

Hal ini biasanya terjadi dikalangan para raja, pemimpin, para konglomerat, pengusaha, tuan tanah, dan para pejabat negara serta keluarga mereka. Mereka membanggakan kedudukan dan hartanya sehingga merendahkan dan melecehkan orang lain. Orang-orang semacam ini bila tidak bertaubat akan berakhir seperti Qorun yang ditelan bumi karena kesombongan terhadap hartanya.

Ketiga: ILMU PENGETAHUAN.

Demikian cepatnya kesombongan menjangkiti para ulama (kaum intelektual) sehingga seorang berilmu pengetahuan mudah merasa tinggi dengan ilmu pengetahuannya. Ia merasa paling mulia diantara manusia. Ia memandang dirinya lebih tinggi dan lebih mulia disisi Allah ketimbang yang lainnya. Hal demikian bisa terjadi karena ilmu yang didapat lebih berorientasi pada duniawi semata, tanpa dilandasi keikhlasan dan pensucian jiwa dalam menuntutnya. Sebab ilmu yang didapat dengan ikhlas karena Allah dan hati yang jujur akan melahirkan sikap tawadhu dan rasa takut kepada Allah.

Keempat: AMAL dan IBADAH.

Orang-orang yang zuhud dan para ahli ibadah tidak terlepas pula dari nistanya kesombongan, kepongahan dan tindakan melecehkan orang lain. Dengan amal dan ibadahnya ia merasa yakin akan selamat, sementara orang lain akan binasa. Sabda Rasulullah SAW. "Cukuplah seseorang dinilai telah berbuat kejahatan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim" (HR. Muslim)

Kelima: KECANTIKAN/KETAMPANAN.

Kecantikan atau ketampanan seseorang bisa meyebabkan dirinya sombong dengan cara merendahkan dan menyebut-nyebut keburukan rupa orang lain.

Dengan definisi yang disebutkan oleh Rasulullah SAW itu, tentulah banyak keburukan yang terdapat di dalam sifat sombong (takabbur), sehingga wajar jika kemudian kesombongan menjadi penghalang masuk surga, sebagaimana dalam hadits shahih Baginda Rasul bersabda: " Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar dzarrah ".

Hal itu disebabkan karena kesombongan menghalangi hamba dari semua akhlaq yang seharusnya disandang oleh orang mu'min, sedangkan akhlaq-akhlaq itu adalah pintu surga, dan kesombongan penutup pintu-pintunya.

Sebab, seseorang tidak bisa mencintai kaum mu'minin sebagaimana ia mencinta diri sendiri bila di dalam hatinya masih ada kesombongan, begitu juga dengan perbuatan-perbuatan lainnya yang muaranya adalah karena adanya kesombongan dalam hatinya.


www.anded.cybermq.com
www.fiqhislam.com



Read More......

Ilmu Dunia tanpa keikhlasan dan pensucian jiwa membawa Anda kepada ‘Kesombongan’

Sumber Kesombongan


Sombong,
sebagaimana didefinisikan Rasulullah SAW adalah "Melecehkan orang lain dan menolak kebenaran" (HR Muslim dan Tirmidzi). Bila penyakit ini telah mewabah dan menjangkit manusia, maka tidak ada lagi penghormatan dan sopan santun, kebenaran menjadi barang mainan. Lebih jauh, penyakit ini akan memunculkan sikap kezaliman, kemarahan, terorisme, permusuhan dan pelanggaran hak.

Ketahuilah bahwa tidak akan bersombong kecuali orang yang menganggap dirinya besar dan tidak akan menganggap dirinya besar kecuali orang yang meyakini memiliki sifat kesempurnaan. Di antara sumber kesombongan adalah sebagai berikut:

Pertama: NASAB KETURUNAN.

Orang yang punya nasab keturunan yang tinggi menganggap hinaorang yang tidak memiliki nasab tersebut, sekalipun ia lebih tinggi ilmu dan amalnya. Kadang sebagian mereka menyombongkan diri lalu menganggap orang lain sebagai pengikut dan budaknya, sehingga ia enggan bergaul dan duduk bersama mereka. Rasulullah bersabda "Hendaklah orang meninggalkan kebanggan terhadap nenek moyang mereka yang telah menjadi batu bara di neraka."(HR. Abu Daud)

Kedua: HARTA KEKAYAAN.

Hal ini biasanya terjadi dikalangan para raja, pemimpin, para konglomerat, pengusaha, tuan tanah, dan para pejabat negara serta keluarga mereka. Mereka membanggakan kedudukan dan hartanya sehingga merendahkan dan melecehkan orang lain. Orang-orang semacam ini bila tidak bertaubat akan berakhir seperti Qorun yang ditelan bumi karena kesombongan terhadap hartanya.

Ketiga: ILMU PENGETAHUAN.

Demikian cepatnya kesombongan menjangkiti para ulama (kaum intelektual) sehingga seorang berilmu pengetahuan mudah merasa tinggi dengan ilmu pengetahuannya. Ia merasa paling mulia diantara manusia. Ia memandang dirinya lebih tinggi dan lebih mulia disisi Allah ketimbang yang lainnya. Hal demikian bisa terjadi karena ilmu yang didapat lebih berorientasi pada duniawi semata, tanpa dilandasi keikhlasan dan pensucian jiwa dalam menuntutnya. Sebab ilmu yang didapat dengan ikhlas karena Allah dan hati yang jujur akan melahirkan sikap tawadhu dan rasa takut kepada Allah.

Keempat: AMAL dan IBADAH.

Orang-orang yang zuhud dan para ahli ibadah tidak terlepas pula dari nistanya kesombongan, kepongahan dan tindakan melecehkan orang lain. Dengan amal dan ibadahnya ia merasa yakin akan selamat, sementara orang lain akan binasa. Sabda Rasulullah SAW. "Cukuplah seseorang dinilai telah berbuat kejahatan bila ia merendahkan saudaranya sesama muslim" (HR. Muslim)

Kelima: KECANTIKAN/KETAMPANAN.

Kecantikan atau ketampanan seseorang bisa meyebabkan dirinya sombong dengan cara merendahkan dan menyebut-nyebut keburukan rupa orang lain.

Dengan definisi yang disebutkan oleh Rasulullah SAW itu, tentulah banyak keburukan yang terdapat di dalam sifat sombong (takabbur), sehingga wajar jika kemudian kesombongan menjadi penghalang masuk surga, sebagaimana dalam hadits shahih Baginda Rasul bersabda: " Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar dzarrah ".

Hal itu disebabkan karena kesombongan menghalangi hamba dari semua akhlaq yang seharusnya disandang oleh orang mu'min, sedangkan akhlaq-akhlaq itu adalah pintu surga, dan kesombongan penutup pintu-pintunya.

Sebab, seseorang tidak bisa mencintai kaum mu'minin sebagaimana ia mencinta diri sendiri bila di dalam hatinya masih ada kesombongan, begitu juga dengan perbuatan-perbuatan lainnya yang muaranya adalah karena adanya kesombongan dalam hatinya.


www.anded.cybermq.com
www.fiqhislam.com



Read More......

Tak Cukup Hanya Menangis


Saudaraku,
Kehilangan memang menyakitkan. Apapun yang terlepas, baik dalam konteks pribadi atau yang lebih luas, tentu terasa menyedihkan. Karena apa yang kita miliki lekat sebagai bagian dari hidup kita. Bahkan ketergantungan terhadapnya mungkin telah tercipta. Ketika itu dicabut atau hilang, kita merasa hilanglah sebagian dari diri kita. Maka sangatlah wajar kalau kemudian ada tangis, minimal kesedihan yang menggumpal di dada. Mungkin tangis ini bisa meringankan sebagian beban hati. Boleh jadi air mata pun bisa membasahi panas hati yang terasa tak menentu. Namun tangis saja tidaklah cukup. Mesti ada tindakan lain yang kita lakukan ketika didera musibah kehilangan.

1. Ingat Kembali Sebab Kehilangan Kita

Kita bisa kehilangan suatu benda. Kita pun bisa kehilangan akhlak dan ketaatan pada Allah yang dulu pernah kita miliki. Kita bisa kehilangan generasi. Mungkin banyak manusia berkualitas yang telah pergi mendahului, hingga kita merindukan mereka. Atau kita merasa kehilangan teman sejati, karena meski banyak teman di sekeliling, namun tak satupun yang sejalan dengan hati kita.

Masyarakat juga bisa kehilangan tokoh kharismatik yang dulu pernah mereka punyai. Negara mungkin kehilangan wilayahnya, juga kehilangan pejabat-pejabatnya yang jujur. Rakyat pun boleh jadi kehilangan rasa aman dan kedamaian. Semakin hari makin panjang daftar kehilangan ini. Maka kita perlu waktu sejenak untuk mengais masa lalu.

Untuk mengetahui sebab-sebab kehilangan. Untuk melihat kembali apakah kehilangan itu karena kecerobohan, atau kelalaian kita mendidik generasi, hingga kita kehilangan pemimpin yang bisa diandalkan. Mungkin juga karena terlalu kuatnya sisi eksternal yang membuat kita “tidak berdaya”. Terlalu banyak yang merusak daripada yang membangun. Padahal seribu orang yang membangun dengan susah payah bisa dihancurkan oleh satu orang saja. Apalagi kalau yang membangun hanya kita sendirian sementara yang merusak berjumlah seribu.

Kehilangan.
Kehilangan kebiasaan membaca Al Qur’an. Kehilangan kalau mata ini sulit menangis ketika membaca Al-Qur’an karena banyak tertawa, maka kurangilah tertawa. Kalau anak-anak terlalaikan karena terlalu banyak mendengarkan kidung cinta yang tertuju bukan pada Rabbnya, maka jauhkanlah kidung itu dari mereka.

Ahmad bin Khidir menikahi Umu Ali. Setelah pernikahan, Ahmad Khidir beserta istri datang kepada Abu Yazid Al-Bustomi. Sang istri memalingkan wajahnya. Ahmad bertanya, “Mengapa kamu memalingkan wajahmu?" Istrinya menjawab, “Karena setiap aku memandang wajah Abu Yazid, hilanglah semangat jiwaku. Dan setiap aku memandangmu semangat jiwaku bangkit." Setelah itu mereka berdua keluar. Ahmad berkata kepada Abu Yazid, “Nasehati aku.” Dengan singkat Abu Yazid menjawab, “Belajarlah dari istrimu."

Ya, pesan singkat bermakna padat. Umu Ali mengetahui sebab kehilangan sesuatu dalam jiwanya. Maka dia pun menghindarinya. Pantas saja Abu Yazid hanya berpesan pendek, “Belajarlah dari istrimu.”

2. Bangkitkan Kenangan, Dimana Dulu Kita Mendapatkannya


Ini hanyalah bagian dari cara untuk membangkitkan kebaikan yang dulu ternyata pernah bisa kita lakukan. Boleh jadi dulu kita pernah sering kali berpuasa atau sholat sunah. Namun kini kita tidak lagi melakukannya. Dan kita pun kehilangan kenyamanan hati seperti yang dirasakan ketika mengamalkan ibadah sunah.

Maka mungkin kita perlu mencoba untuk napak tilas. Kita cari dan kita munculkan lagi tempat dan suasana yang membawa pada keinginan beribadah. Kita munculkan alasan dan pendorong yang dulu bersemayam di hati. Hingga kita bergairah untuk kembali mendekati Allah dengan melakukan amalan sunah yang berkualitas.

Marilah kita mencoba kembali ke belakang barang sesaat, untuk membangkitkan kenangan bahwa dulu kita pernah mengukir kebaikan. Dengan harapan, kenangan ini menjadi pemicu bangkitnya naluri kita untuk kembali berbuat kebaikan, yang mungkin hampir punah.

3. Jadikan Orang di Sekeliling Kita Sebagai Pengontrol

Kehilangan bisa jadi muncul akibat kita tidak sanggup menjaganya. Kalau demikian adanya, tentu kita harus membuat kontrol-kontrol diri yang akan menjaga semua yang kita miliki. Kita bisa menjadikan orang-orang disekeliling kita menjadi kontrol bagi perjalanan kita.

Untuk memantau kita.
Teman merupakan partner yang semesti-nya bisa memberikan kontrol positif, Tanpa itu persahabatan tidaklah banyak berarti. Dari mereka kita bisa mendapatkan masukan, nasehat, peringatan dan teguran. Ini semua merupakan pengawas dan penyeimbang langkah.

Umar ra. menjadikan masyarakat sekeliling-nya sebagai pengontrolnya. Sewaktu pidato perdananya sebagai khalifah, ia tanpa basa basi berani menanyakan siapa yang bersedia mengontrolnya. Detik itu pula seorang anak muda menghunus pedang, dan dengan lantang mengatakan bahwa pedangnyalah yang akan mengontrol Umar, jika mulai menjauh dari amanah.

Selain teman, musuh pun bisa menjadi pengontrol langkah kita. Karena musuh selalu mencari kelemahan kita. Dengan demikian sebenarnya kita secara cuma-cuma sedang menuai kritik, yang boleh jadi sebagian atau keseluruhannya ternyata bernuansa positif.
Seorang ulama salaf berkata, "Kenikmatan dan orang-orang iri selalu beriringan. Jika ada kenikmatan di sana pasti ada orang yang iri. Maka jika tidak ada orang yang iri kepada Anda berarti Anda telah kehilangan banyak kebaikan dalam hidup."

Kontrol inilah yang akan menjaga kita dari kehilangan untuk kedua kalinya. Kontrol inilah yang mengingatkan dan mencegah agar kita tidak sedih dan menangis untuk kasus kehilangan yang sama. Jadikanlah teman, lawan dan catatan sejarah sebagai cermin yang bening. Tempat kita melihat apa yang hilang dari wajah kita. Untuk mengetahui apakah seraut wajah cerah belum hilang dari kita.

4. Carilah Kembali Mutiara yang Hilang

Yang hilang mungkin kembali lagi. Yang pergi mungkin diharapkan datang lagi. Terus mencari agar ia kembali dan datang lagi adalah usaha yang tak boleh henti. Berbagai upaya harus diupayakan agar apa yang pernah hilang kembali lagi. Kerinduan pada Al-Qur’an harus dimunculkan kembali, Kenikmatan sholat malam harus diraih kembali. Kembalinya kedamaian di keluarga harus terus diupayakan jalannya. Keberkahan negeri yang pernah diraih harus dicoba untuk dikembalikan.

Tidak ada kata terlambat.
Karena “mutiara” itu mungkin hanya terselip dari pandangan rnata kita. Mungkin kita hanya butuh sedikit lelah fisik dan lelah hati, kemudian “mutiara” itu akan berada di tangan kita lagi. Setelah “mutiara” itu kembali, ada rasa bahagia yang tidak terlukiskan. Bahkan kita bisa lebih bahagia dibandingkan ketika kita memegangnya pertama kali,

Apa yang hilang dari kita harus kita cari kembali. Andalus mercusuar kejayaan Islam telah hilang. Palestina kiblat pertama kita telah direnggut. Dengan rasa optimis tinggi dan usaha tak kenal lelah kita berharap "mutiara” itu jatuh ke tangan kita lagi. Meski mungkin perlu waktu yang tidak sebentar, namun langkah mesti segera dibangun.

5. Titipkan Semuanya kepada Allah

Menitipkan kepada Allah berarti menitip-kan kepada Dzat yang Maha Menjaga, Bintang gemintang dan segala benda angkasa luar yang tidak terhitung jumlahnya terjaga semuanya. Karena hanya Dialah yang Maha Menjaga. Tidak rusak dan tidak hilang apa yang dititip-kan kepada-Nya.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak melepas seorang teman-nya. "Kesinilah aku lepas engkau dengan cara Nabi melepas orang yang hendak pergi, ‘Aku titipkan engkau kepada Allah yang tidak akan pernah hilang apa yang dititipkan kepada-Nya.’"

Titipkan diri ini agar tidak banyak kehilangan kebaikan. Titipkan generasi ini agar tidak hilang tersesat di belantara dunia. Titipkan negara ini agar dijaga dan tetap dilimpahkan keberkahan. Titipkan hati ini agar tetap menjadi pencetus ide-ide kebaikan. Ketika kita mulai khawatir akan kehilangan sesuatu, maka segeralah berdialog dengan Allah, agar Dia menjaga kita dan menjaga apa-apa yang kita takutkan akan hilang. Bahkan ketika kita sudah kehilangan, mintalah agar Allah mengembalikan kepada kita apa yang telah pergi.

Ketika Said kehilangan barang berharga, Hasan Al-Bisri berkata, “Pergi dan ambillah wudhu kemudian sholatlah dua rakaat dan berdoalah, Wahai Dzat yang Maha Lembut, Maha Pemberi, Maha Pengasih, Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, Pencipta langit dan bumi, Yang Mempunyai keagungan dan keutamaan, ampunilah aku dan kembalikan yang hilang dariku," Tak lama berselang, Said kembali kepada Hasan dengan barang berharga yang hilang sudah di tangannya kembali.

Meminta tolong dan menggantungkan harapan kepada sesama manusia, seringkali tidak mendatangkan solusi. Bahkan bisa menyesatkan. Berpindahlah pada Allah yang Maha Mengetahui ke mana perginya yang hilang dan “tempat menitip” yang paling aman, karena apa yang kita miliki tidak mungkin rusak dan hilang.

Yang telah hilang dari kita mungkin amatlah banyak. Sebelum berbuntut penyesalan berkepanjangan dan hanya menambah penderitaan, maka cepatlah bertindak yang benar ketika kita kehilangan.
Wallahu’alam.


masnonowajak.blogspot.com


Read More......